Kamis, 30 Agustus 2012

Tentang MaKaTa


MaKaTa adalah sinonim dari Majelis Kajian Tafsir “al-Qur’an “ yang diselenggarakan oleh Pengurus Majelis Wakil Cabang ( MWC ) Nahdlatul Ulama ( NU ) Kecamatan Magetan, yang juga merupakan kelompok kajian lanjutan dari Majelis Pengajian Ahad Pagi “ An-Nahdliyyah “

Selain mempunyai makna panjangan kata tersebut, secara khusus “ MaKaTa” juga menyerupai kata “ Kota Suci Makkah “ dalam cara baca lughawi, yang secara filosofis berorientasi pada kesiapan diri untuk menuju kota tersebut dalam rangka menunaikan rukun Islam yang ke-lima, amin……

Risalah ini  merupakan ringkasan kajian per-bab, atau dalam istilah tafsir disebut dengan istilah “ Tafsir Maudlu’i” . sebagai acuan dan referensi ringkas bagi para jamaah kajian untuk mengingat ulang materi-materi yang telah dijabarkan.

Semoga Rislah ini bermanfaat dan mendatangkan maslahah… fid -diini wad -dun yaw al aakhiroh………. Amin

Tafsir Surah al-Fatihah ayat 5


Edisi N0: 3-Desember 2009 M/Dzul Hijjah 1430 H

Surah : al-Fatihah ayat : 5

 Terjemahannya :  Hanya kepada-Mu ( ya Allah ) kami menyembah dan hanya kepada-Mu  ( pula ) kami mohon pertolongan.
Mukaddimah :
Ayat merupakan bagian pertengahan antara Allah dan manusia, yakni : dalam hal kewajiban dan hak yang terbagi secara seimbang, dengan kata lain adalah : " Kewajiban manusia adalah menyembahAllah,  dan haknya adalah mendapatkan/ menerima pertolongan dari-Nya. Dan  Kewajiban Allah adalah memberi pertolongan manusia dan hak-Nya adalah disembah ".

Sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya, penyebutan Surah al-Fatihah sebagai Sab-'ul Matsaani adalah 7 ayat yang mengandung dua bagian secara seimbang antara Allah sebagai Dzat Yang di-Maha-kan dan manusia sebagai hamba. Dan dalam ayat  1 s.d 4 adalah bagian atau hak  Allah yang terangkum dalam (1) penyebutan Asma-Nya sebagai pancaran tawakkal, (2) Pemusatan segala pujian sebagai apresiasi syukur, ( 3 ) Pengagungan sifat Rahman dan Rahim serta Pemilik hari qiyamat sebagai pondasi sabar.

Dalam hal kewajiban sebenarnya merupakan hak bagi pihak lain, demikian juga halnya dengan hak, maka tentulah menjadi kewajiban peihak lain, secara seimbang dan saling terkait.

Bahasan :
Dalam memahami ayat ini, perlu penegasan kembali tentang hakekat posisi manusia sebagai hamba/abdi atau pihak yang memiliki ketergantungan luar biasa terhadap " Tuan/ Bendara"nya. Bahkan dalam pengertian sang lebih luas lagi, sesungguhnya manusia " hanyalah merupakan wayang, yang apabila tidak dimainkan oleh sang dalang, maka tak berfungsi apa-apa" karena sebagaimana firman Allah dalam  Q.S. ash-Shoffaat: 96, yang artinya : Dan Allah-lah Yang telah menciptakan kamu dan ( menciptakan ) apa-apa yang kamu kerjakan.

Dalam hal ini, ruh sebagai anugerah Allah yang tiada terbanding nilainya dan tak dapat tergantikan dengan yang lain, menjadi karunia satu-satunya penentu, apakah manusia itu " hidup" atau dia telah " mati ", sebab dengan dicabutnya " nikmat ruh " itu dari manusia, maka ia hanyalah sebujur bangkai yang tidak bermakna dan bernilai sama-sekali, oleh sebab itu ketergantungan mutlak manusia kepada Allah sebagai Tuan dan Tuhannya, memberikan karunia lain lagi, selain " ruh" yaitu kesempatan untuk mendapatkan pertolongan darinya secara bebas dan tanpa terikat sama sekali dengan hal-hal selain Allah. Namun pertolongan itu merupakan imbal balik dan keniscayaan dari sebuah perilaku awal, yakni " menyembah-Nya " setulus dan sepenuh hati ( ikhlash ).
Yang dimaksud dengan bebas dab tanpa terikat adalah bahwa kewajiban manusia untuk menyembah Allah tidak terbatasi oleh persayaratan dan tidak menimbulkan efek tertentu bagi Allah, sehingga meskipun manusia secara bersama-sama tidak melakukan "penyembahan" sebagai aktifitas wajibnya saat hidup di dunia, tidak lantas  ber-efek pada perubahan status "ke-Ilahi-an" Allah, dan pula tidak disyaratkan dalam penyembahan dengan syarat-syarat tertentu, seperti suku atau bangsa tertentu, tapi seluruh manusia mempunyai kewajiban " menyembah" Allah tersebut secara mutlak. Sebagaimana firman Allah dalam : Q.S. Adz-Dzariyaat : 56, yang artinya : Dan tiadalah Aku ( Allah ) ciptakan jin manusia kecuali untuk menyembah-Ku ( mengabdi pada-Ku).
Meskipun mareka ( manusia ) ada yang tidak menyebah Allah karena mempunyai keyakinan kepada selain-Nya, dan mereka tetap mendapatkan pertolongan, hal itu bukan berarti merusak dan mengotori makna dari ayat ini, namun semata hanya " bentuk tanggungjawab " dan "belas kasihan" Allah kepada mereka selaku Dzat Yang Maha Mencipta, dan ini mempunyai makna yang sangat berbeda denga pertolongan bagi mereka manusia yang menghamba dan mengabdi kepada Allah.

Karena bentuk dan sifat pertolongan-Nya yang juga berbeda. Yakni bahwa kalau terhadap manusia yang tidak mengabdi dan menyembahnya, pertolongan itu hanya bersifat fana selama di dunia sebagai aplikasi sifat " Rahman"nya Allah sebagaimana yang telah dibahas pada edisi sebelumnya, namun pertolongan terhadap manusia yang mengabdi kepada Allah adalah bersifat abadi dan tersambung, yakni dunia dan akherat, padahal telah banyak diterangkan , bahwa hidup yang sesungguhnya bagi manusia adalah " kehidupan di alam akherat, karena keabadiannya. Sedangkan hidup di dunia hanyalah jembatan perantara bagi kehidupan akherat.

Karena " menyembah " merupakan kewajiban utama manusia, maka dalam mewujudkannyapun mencakup segala aspek kehidupan, dan di sinilah sebenarnya makna inti dari " Tauhid " atau mengesakan Allah dalam segala hal, lahir dan batin.

Secara syar'i, bentuk ibadah digolongkan menjadi 2 yang paling utama, yakni :
1.      Mahdloh : yakni ibadah yang telah ditetapkan bentuk,jenis dan tata pelaksanaannya dalam paket yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, seperti : shalat, zakat, puasa ramadhan dan haji dll.
2.      Ghoiru Mahdloh : yakni jenis ibadah yang tidak terikat, namun orientasinya dikhususkan untuk " mencari ridlo Allah " dan diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan, sejak bangun tidur hingga tidur kembali, bahkan dalam " tidur" sekalipun, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasul saw, dalam istilah " ihsan " yang jenis terbesarnya ada 99, dan paling besar dan utama urutannya adalah " kalimah thoyyibah : Laa ilaaha illalloh, dan yang terbawah, teringan dan terkecil adalah " ifadatul adzaa 'anith-thuruqaat ( menyingkirkan penghalang jalan ).
Dengan demikian, sebenarnya manusia tidak dapat lepas dalam kehidupannya dari kerangka ibadah atau pengabdian ini. Namun dalam banyak realita justru perkara yang terlihat sepele ini menjadi permasalahan tersendiri, sebab sebuah aktifitas kehidupan itu disebut "ibadah" manakala orientasinya adalah " lillah " hanya untuk Allah, padahal kenyataannya sungguh sulit  untuk Mewujudkannya.

Sehingga sebuah aktifitas kehidupan itu dapat dikategorikan sebagai ibadah atau bernilai pengabdian adalah apabila diniatkan dan diorientasikan pelaksanaannya dalam menggapai " ridlo Allah ", yang tentunya harus didasari dengan rasa ikhlas dengan menyebut asma-Nya ( dengan ucapan basmalah ) serta penuh rasa syukur dan sabar )

Intisari :

Ayat 5 surah al-Fatihah ini juga mengandung makna kausalitas ( sebab akibat ) dalam hal kewajiban dan hak, artinya bahwa apabila manusia sebagai makhluk ciptaan Allah secara ikhlas menjalani kehidupannya di dunia ini dalam koridor " kewajiban beribadah " kepada Allah, tentulah segala permintaan pertolongannya akan dikabulkan ( dalam arti : kabul lahir batin dan berdimensi dunia akherat ), namun bila tidak dalam koridor itu, Allah akan tetap memberi pertolongan, namun hanya sebatas bentuk " rahman"nya Allah di dunia saja dan tidak berdimensi lahir batin maupun dunia akherat, mungkin justru akan memperdalam jurang ancaman siksa neraka dengan " sepintas " pertolongan yang diberikan kepadanya tersebut.

Intisari dari ayat 5 ini menegaskan kembali bahwa meski " ibadah " menjadi kewajiban manusia yang harus ditunaikan dan diemban, namun ia juga menjadi sebab datangnya pertolongan Allah yang dapat menyebabkan keselamatannya di dunia dan akherat dan dapat mendatangkan kebahagiaan dunia dan akherat, lahir dan batin.

Lalu jenis " pertolongan " macam apakah yang dapat menghantar kesuksesan hakiki hidup manusia tersebut, tentu akan dipaparkan pada kajian tafsir berikutnya.
Semoga Allah senantiasa menjadi tujuan kita dalam beraktifitas dalam kehidupan yang fana di dunia ini, dan semoga kita diselamatkan dari godaan " ketersesatan " dari beramal untuk selain-Nya yang mengakibatkan rusaknya pola hidup yang harus kita jalani.